Dilema Caleg

Kejadiannya Masih di bulan ini tanggal 22 januari 2019 sebenarnya kampus saya sudah masuk waktu liburan semester ganjil, tapi tidak untuk semester tua yang sedang mengejar skripsi nya hehe.

Seperti sewajarnya anak kuliahan pasti punya temen main dari semester awal. nah kalau sudah semester akhir seperti sekarang ini baru kerasa persaudaraannya kuat. karna kita saling menyemangati supaya bisa cepet selesai skripsinya.

Hari itu saya datang ke sidang skripsi temen saya untuk menyemangati dan ada urusan yang mengharuskan saya untuk pergi ke kampus. Sembari menunggu temen saya selesai sidang kami menunggu di luar ruangan sambil mengobrol ngalor-ngidul.

Seperti yang temen-temen tau kalau kita sekarang sedang menghadapi tahun politik. suhu politik sedang panas-panasnya karna ada pihak-pihak (cebong dan kampret) yang senang mengadu-domba kita. Jadi obrolan seputar politik menjadi bahan perbincangan yang sayang untuk dilewatkan. Ditengah-tengah perbincangan politik kami datanglah salah satu dosen muda yang sekaligus beliau sedang nyaleg sekarang ini.

Akhirnya dengan sepontan temen saya (sebut saja dia mawar) langsung nanya

Mawar  : “bu, ibu nyalon dari partai mana sih bu?”

dosen : “dari partai ***”,

mawar  : “oh itu partai masuk koalisi mana ya?”

mendengar pertanyaan itu dosen saya langsung terlihat gejala mau memutarkan jawaban seperti para politikus kalau ditagih janjinya :v, melihat gelagat itu dengan muka bahagia saya langsung timpah “ masuk ke koalisi ***  kan ya bu?” dosennya senyum-senyum sambil bilang “iya”.

Mawar  : “ berati ibu milih pak *** ya?” Dengan cepat mawar langsung bertanya

dosen saya yang bisa menebak arah pembicaraan langsung menjawab “aduhh males saya bahas itu, ngak usah ngomongin pilpres lah”

Mawar  : “berati ibu ngak milih pak *** walaupaun satu koalisi ya?”

Dosen   : “yeuh ngak juga, milih itu tergantung pribadi juga sifatnya rahasia…”

Saya       : “emang kalo dipartai itu ngak ada surat edaran atau kayak yang mewajibkan untuk memilih calon yang didukung bu?” dengan muka penasaran

Dosen   : “ ya tapikan itu balik lagi ke pribadi masing-masing, kitakan ngak tau siapa yang orang coblos waktu di bilik suara, tapi kalau kita sebagai kader pasti kita membantu koalisi …..”

Pembicaraan berlanjut sampai ke hal teknis yang ngak perlu saya tulis disini

Hal yang saya tangkap waktu kejadian itu sebenarnya setiap tindakan yang kita lakukan setiap pilihan yang kita pilih seharusnya kita memilih berdasarkan kata hati kita, karna semua yang kita lakukan termasuk “pilihan” kita nanti pasti akan dipertanggung jawabkan di kehidupan kedua kita.

Intinya jangan sampai salah pilih, baik itu dalam pemilu nanti (legislatif/presiden}, atau dalam menentukan tindakan kehidupan. Pikirkan matang-matang jangan sampai terbawa suasana karna semua ada pertanggungjawabannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s