Merantau #2. Merasakan Hal Pertama

16 Agustus 2015 tepat hari keberangkatan kami, Sekumpulan Mahasiswa Baru dari Pulau Jawa yang akan menuntut ilmu ke tempat yang tidak pernah kami duga (apalagi saya). kalau kami akan menuntut ilmu di tempat yang jauh dari pusat indonesia. Kami berangkat dari rumah Dr. Zul selepas sarapan pagi langsung menuju Bandara Internasional Soekarno Hata.

Sesampainya disana kami langsung cek in katanya pesawat sudah boarding jadi harus buru-buru. karna saya kurang paham soal beginian ya ikut-ikut aja apa kata seseorang (saya lupa namanya) yang emang tugasnya mendampingi kami sampai penerbangan. waktu menimbang bagasi, Ternyata bagasi kami kelebihan muatan jadi harus membayar denda. tapi untungnya karna masih didampingi jadi ada yang bayarin dan kami tidak perlu keluar uang.

Setelah cek in dan menimbang bagasi kami buru-buru untuk segera masuk ke pesawat karna sudah boarding, tapi tepat di depan pintu masuk ke dalam bandara yang lapis ke dua (saya ngak tau apa namanya tempatnya) para orang tua yang mengantar anaknya sudah menunggu. kami semua berpamitan degan orang tua kami yang mengantar dan berfoto bersama sebelum berpisah untuk waktu yang lama. Tapi sayangnya orang tua saya tidak datang. Sebenarnya orang tua saya menjanjikan untuk datang melepas kepergian anak ke duanya dan mendoakan semoga perjalanan merantau yang perdana baginya semoga dilancarkan dan dimudahkan. Tapi sayang cerita pasti tidak selalu bahagia.

Sebelumya dari mulai sarapan saya sudah mulai menghubungi orang tua saya “sudah dimana?”. Mereka bilang “masih dijalan” mendengar jawaban itu saya beryusukur masih bisa pamitan pikir saya. Sampai akhirnya sarapan selesai kami berangkat ke bandara masih belum kelihatan tanda-tanda kedatangan orang tua saya, saya mengirim pesan “mah aku udah berangkat ke bandara, jadi langsung aja nanti kebandara…”. Sampai setibanya dibandara tiba-tiba saya merasa kehangatan dari keadaan teman-teman saya yang diantar oleh ortu mereka, Ya seperti keadaan pada umumnya orang tua melepas kepergian anaknya. Merasakan kehangatan itu saya merasa iri “saya juga mau merasakannya!” alhasil saya mencoba menghubungi orang tua saya lagi Alhamdulillah saya dapet kabar mereka sudah masuk tol bandara karna habis kejebak macet. Saya disuruh untuk cek in dulu dan menunggu di pintu masuk lapis ke dua untuk berpamitan. Lumayan lama cek innya karna bawaan kami yang sangat banyak dan antrian cek in yang panjang jadi lumayan memakan waktu. Setelah selesai cek in saya memberi kabar lagi ke ortu saya “ mah dimana? Aku udah selesai cek in” saya tidak mendapat balasan. Karna mepet waktu kami buru-buru untuk masuk kedalam bandara dan harus langsung masuk ke pesawat. Ya jadi ini pertama kali perpisahan saya dengan orang tua ternyata kata-kata yang terakhir saya dengat itu nasehat dari ummah saya tadi malam “… jangan main HP mulu, kenalan sama temennya sana, belajar sosialisai amri…”. Kata-kata yang masih saya ingat dengan jelas sampai sekarang.

Hari ini juga saya melakukan penerbangan pertama saya, sebelumnya saya sudah dapat wejangan kalau di pesawat itu bla bla bla jadi saya sudah tidak terlalu takut lah. Waktu itu saya naik maskapai batik air. Penerbangan yang nyaman dengan sedikit goncangan. Ada hal lucu selama penerbangan  ada teman saya yang kaget waktu pesawatnya take off, ada juga yang jaim karna duduk disebelah perempuan jadinya menolak tawaran makan siang yang diberikan pramugari. Untungnya teman duduk saya yang sudah berpengalaman hehe. Teman saya namanya fuad asalnya dari bogor juga, selama dipesawat dia terus bercerita entah tentang gunung, pengalamannya, tempat tinggalnya banyak dah. Saya seperti biasa cenderung pasif, kurang ekspresif dan lebih sering mendengarkan sambil ngangguk-ngangguk, saya juga heran kenapa dia terus bercerita padahal kalau dipikir waktu itu saya mungkin membosankan dan menjengkelkan hehe.

Setibanya di Bandara Internasional Lombok kami di tuntut untuk mengerjakan semuanya sendirian. Mulai dari mengurus bagasi sampai cek in, tidak ada lagi yang mengantar dan mendampingi, untungnya ada beberapa orang yang sudah pernah berpergian menggunakan pesawat. Singat cerita kami harus cek in lagi dan menimbang ulang bagasi kami, seperti yang diduga bagasi kami kelebihan muatan ditambah lagi kapasitasnya kalau dari Lombok ke Sumbawa lebih kecil dari sebelumnya, jadi kami harus membayar denda lebih banyak. Akhirnya kami mengurangi bagasi kami dengan membawa yang sekiranya masih bisa dibawa ke dalam pesawat, alhasil tas saya tidak dimasukan lagi ke bagasi karna beratnya memang cuman 12 kg. dan kami membuat kesepakatan harus ikut patungan membayar tiap orang 100rb untuk membayar bagasi, semuanya wajib karna atas dasar persaudaran anak rantau hehe. Cek in selesai tinggal berangkat, sesampainya di bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III kami disambut dengan hangat oleh rombongan yang sudah menunggu kami.

Penyambutan selesai, kami diantar ke tempat tinggal kami selama disumbawa anggap aja asrama. Disana kami makan malam dan melanjutkan mengobrol sampai larut. Saya yang tidak terbiasa, memilih untuk tidur karna memang sudah larut juga. Paginya perut kami keroncongan kami memutuskan untuk pergi berjalan-jalan mencari sarapan sembari mengenal lingkungan sekitar. Kami sarapan dirumah makan batak. kami agak terkejut waktu pertama melihat porsi nasi orang sini terlalu banyak bagi kami, tapi setelah tinggal lama disini ternyata porsi besar itu memang diperlukan karna cuaca disini yang bisa dibilang ekstrim yang memakan banyak energi.

Kalau dipikir-pikir waktu mengingat kembali kejadian serba pertama kali ternya seru juga, tidak se-sendu yang dibayangkan banyak orang. Mungkin dulu saya rasanya campur aduk apalagi setelah saya tiba di bandara Lombok saya mendapat pesan dari orang tua saya “…ummah masih di tol amri, kayaknya ngak sempat kesana. Mungkin tadi pesawat yang lewat itu pesawat kamu. Jaga diri disana ya, semangat menuntut ilmu..”. yahh kalau sekarang saya mengingat itu bisa membuat saya semangat tapi kalau dulu mungkin mellow, ini hanya bagaimana kita menempatkan suatu kejadian dalam hidup kita. ibarat kejadian itu cat air dan kita adalah pelukis. pelukis yang hebat pasti tau dimana melukiskan cat air pada tempatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s