Merantau #4 Unity in Diversity

Unity in diversity itu adalah satu tema besar dalam RESPEK UTS 2015. Sekedar info RESPEK adalah masa pengenalan kampus bagi mahasiswa baru seperti di perguruan tinggi lainnya. Diangkatanku para panitia mengusung tema unity in diversity (bersatu dalam perbedaan). Analisis yang tepat menurutku. karna ada 2 momentum yang tepat, pertama karena sebelumnya ada kejadian sepeda anak rantau diangakatan 2014 dirusak oleh oknum tidak bertanggung jawab. Isu yang menyebar dikarenakan ada oknum yang mereka iri karena kehadiran mahasiswa rantau yang mendapat beasiswa., yang kedua adalah karena adanya gelombang besar ke dua dimana Kampus kedatangan 150 mahasiswa yang berasal hampir dari seluruh Indonesia, dengan memanfaatkan moment itu diharapkan egoisme kedaerahan di dilunturkan dan diganti dengan semangat berjalan bersama untuk saling bantu-membantu.

Bersatu dalam perbedaan merupakan salah satu pelajaran yang ku dapat dari perantauan ini. Bukan hanya karena suku atau daerah, tapi ada karakter, agama dan budaya yang berbeda harus dihadapi. Waktu itu di Sumbawa masih hangat-hangatnya kericuhan antar etnis pribumi dan etnis bali karna baru terjadi sekitar tahun 2013. Jadi setiap kami bertemu orang Sumbawa pasti selalu dapat cerita tentang kericuhan itu. Entah maksudnya memperingatkan ke kita para pendatang atau cuman ingin membagi kisah saja.

Disini aku bisa bertemu beragam suku, mulai dari aceh sampai flores. Sedihnya setiap kali bertemu dan bercerita dengan suku tertentu pasti mereka akan membanggakan daerahnya dan menjelekkan daerah orang lain. Semisal ada temanku dia orang sunda pernah terlontar dari mulutnya “cewe-cewe orang jawa cakep ya, tapi sayang kalo mereka udah ngomong medok jadi luntur cakepnya”. Adalagi orang jawa suka bilang “ itu orang sunda suka banget makan sayuran mentah kayak kambing aja”, kalau orang Sumbawa seringnya cerita tentang tragedi 2013 kadang juga suka menjelekkan orang Lombok “ itu Lombok kalau dipisah sama sumbawa bisa mati mereka, disumbawa itu jagung ada, padi ada, tambang ada” atau mungkin kebalikannya. Atau pengalaman ku sendiri, waktu itu ada beberapa oknum orang lokal (yang aku kenal karna satu prodi) yang sengaja ngomong Sumbawa untuk meledek. Sedih sih rasanya, imajinasi bhineka tunggal ika yang selalu di elu-elukan oleh para tokoh negera ketika bicara di TV, atau tentang makna sakralnya sumpah pemuda seakan luntur dengan sendirinya.

Beruntungnya aku punya ayah dari jawa tengah, ibu yang dari jawa timur, lahir dan besar di bogor. Sewaktu kecil aku pernah 2 tahun sekolah di jawa tengah lalu pindah dan besar di bogor. Setidaknya karna hal kecil itu aku bisa mengenal perbedaan budaya. Karena aku punya beberapa latar belakang budaya dan juga orang tua biasa bicara Bahasa Indonesia membuat ku kurang bisa Bahasa daearah. Mungkin hal itu membuat ku seperti tidak punya identitas kedaerahan, tapi aku bersyukur bisa memandang orang tidak dari asal suku atau Bahasa yang mereka gunakan.

Tapi sebenarnya bukan karna latar belakang budayalah yang membuat kita bisa menghargai seseorang tanpa melihat latar belakang. Tapi pendidikan lah yang sangat berpengaruh, karna pendidikan itu sebenarnya membentuk karakter kita. Aku masih bisa percaya bahwa masalah ini bisa terselesaikan. Karna tidak sedikit juga teman ku yang bisa menghargai keberagaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s