Untuk Abang

Bismillah

Assalamualaikum bang. Gimana kabarnya?

Agak sungkan sepertinya kita berbicara. Memang sudah seperti ini sejak kita dewasa. Kita punya dunia masing-masing. Kalau tidak salah aku hanya berbeda 2 tahun dengan mu. Kamu anak pertama dan aku anak kedua. Memikul beban anak pertama sebagai contoh memang berat.

Aku ingat sekali waktu kecil dulu kita sering main bersama tanpa memikirkan dunia masing-masing. Kamu yang aktif dan memiliki banyak teman aku sebaliknya selalu menempel denganmu. Ingat sekali ketika aku dimusuhi oleh teman-teman yang lain kamu datang merangkul untuk membela. Aku yang dulu punya sifat keras mungkin tidak disukai teman-teman masa kecil. Abang lah yang selalu mengajak bermain bersama.

Tapi semakin dewasa kita mempunyai dunianya masing-masing. Seperti ada tembok pembatas antara kita. Aku tidak masalah sebenarnya dengan perbedaan kita. aku pun tidak punya kuasa sebenarnya untuk mengusik duniamu. Kita sama-sama sudah dewasa, bisa mengatur cara hidup kita masing-masing. Menjadi anak pertama memang beban yang berat. Yang harus menjadi contoh bagi adik-adiknya, kalau abang melakukan hal buruk pasti langsung dibanding-bandingkan dengan pencapaian adiknya. Mungkin aku sudah kuliah S1 atau adik yang ketiga sudah bekerja sedangkan kamu masih melakukan kesibukan mu sendiri. Aku tau pasti berat dan sakit hati jika dibandingkan seperti itu. Suka tak enak hati sebenarnya aku jika ada yang membanding-bandingkan. Karna aku percaya semua orang punya garis tangannya masing-masing.

Kadang aku ingin bilang tak usahlah membandingkan kita semua kepada meraka, tapi apadaya mereka pun tak paham pasti karna sudah dibutakan oleh cinta dan rasa sayang yang mereka anggap benar. Tapi aku yakin abang pasti punya rasa sayang yang besar. Senang hatiku ketika 2 tahun lalu kamu sudah punya kerja dan bisa membelikan orang tua baju lebaran. Aku tau kamu pasti sangat bangga dan aku sangat senang dengan hal itu.

Disini aku ingin bilang, jangan dengarkan apa yang orang bila. Fokus saja untuk berusaha membahagiakan orang tua kita seperti yang pernah abang lakukan. Mungkin sekarang lagi menganggur tapi pasti selalu ada jalan. Jangan minder dengan pencapaian adik-adik mu. Alihkan rasa sakit itu kepada hal-hal positif untuk terbang lebih tinggi. Apapun itu asal hal positif akan ku dukung seribu persen. Aku ingin melihat senyum bangga itu lagi. Kita semua berjuang dijalan masing-masing, tidak ada yang salah dengan itu.

Aku mendoakanmu semoga bisa berjalan dijalan mu.

Disini aku mendukung mu.

Mari sama-sama membuat orang tua kita bangga.

Salam terhangat

Adik mu

Tantangan menulis bareng TAWALIFE tema kesembilan, surat untuk Abang.

4 tanggapan untuk “Untuk Abang

Tinggalkan Balasan ke Desfortin Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s