Merantau #5 Belajar Bersosial

Hal yang klise jika menulis ini, tapi sejujurnya sampai di awal masuk kuliah aku tidak tahu apa mimpi yang sebenarnya benar-benar ingin aku wujudkan. aku tidak punya cita-cita, entah dari sejak kapan aku merasakan itu Mungkin dari SD. Sejak dulu aku memang tidak punya perencanaan yang panjang. Hanya ingin melakukan hal yang aku suka saja. seperti waktu SD saya sangat suka sekali matematika, pemahaman saya bagus tapi saya tidak punya rencana untuk ikut lomba atau bahkan target untuk mendapat nilai bagus. sama seperti waktu SMP, SMK atau pun Kuliah.

Penyebabnya mungkin karna dulu aku tidak suka baca, jadi wawasan ku kurang luas. Karna memang di keluargaku tidak membudayakan membaca dan tidak ada buku bacaan. Ingat sekali buku pertama yang aku baca itu hanya sebuah buku novel kecil diperpustakaan sekolah SMP. Jadi mungkin karna wawasanku yang sempit jadi aku tidak punya mimpi seperti apa aku ini. Atau mungkin karna aku orangnya susah bergaul jadi lingkungan pergaulanku yang memang sempit.

Tapi bersyukurnya aku mempunyai orang tua yang membebaskan anaknya memilih jalur pendidikan yang dia suka. Karna itu aku masuk SMP dan SMK atas pilihan ku sendiri tanpa ada paksaan dari orang tua. Idealismeku mulai tumbuh setiap kali aku memilih suatu pilihan. Seperti aku lebih memilih SMP negeri (umum) dari pada SMP islam atau pesantren, karna aku tidak suka dengan jam belajar mereka yang padat dan mata pelajaran yang sangat banyak. Selanjutnya kenapa aku lebih memilih SMK ya karna aku tidak mau masuk ke semolah SMA. MA. Atau pesantren, karna aku selalu berfikir sudah seharusnya aku memilih konsentrasi bidang yang ingin aku perdalam dan membuang mata pelajaran yang tidak ada gunanya. Sejak dulu memang aku berfikir sudah seharusnya kita memilih konsentrasi pelajaran. Tidak semua mata pelajaran kita pelajari, kalau dilihat saja waktu smp guru mata pelajaran aja berbeda-beda. Tidak ada guru yang bisa menguasai semua mata pelajaran SMP, kenapa kami siswa harus menguasai semuanya?. Sayangnya di Indonesia untuk konsentrasi pendidikan hanya ada di tinggat sekolah menengah atas, Kalau ada sejak SMP mungkin aku sudah memilih sejak SMP.

Ketika memutuskan untuk kuliah hal yang aku paling pertimbangkan adalah kuliah bukan untuk cari keja. Makanya saya tidak ada keinginan sekalipun untuk masuk ke STAN. bukan karna jelek, tapi karna tidak sesuai dengan tujuanku saja. Jadi waktu itu pikir saya kuliah ingin merasakan bagaimana rasanya berdiskusi ilmiah, berorganisasi dan bersosial. Alhamdulillah gayung bersambut ada beasiswa untuk kuliah secara normal. Jadi tujuan besar saya waktu kuliah adalah ingin merasakan debat intelektual, berorganisasi dll, hanya sekedar itu tidak ada pencapaian prestasi-prestasi. Cetek sekali mungkin setelah aku pikir sekarang ini di semester akhir. Mungkin karna tadi aku masih kurang wawasan dan lingkungan pergaualan yang sempit. Tapi aku tak menyesal sama sekali.

Dengan bermodalkan tujuanku tersebut aku mulai menjalani hari-hari kuliah. Pikirku dengan lingkungan yang baru dan asing aku bisa memulai kehidupan yang baru dan kepribadian yang baru. Tapi ternyata tidak. Aku masih seperti diriku yang sebelum-sebelumnya. Hampir satu semester aku hanya duduk dibangku paling depan atau paling belakang. Teman ngobrolku akrabku hanya mahasiswa rantau saja. tapi untungnya lingkunganku sebenarnya sangat mendukungku untuk mulai berbaur. Yang pertama karna aku dulu sekolah SMK akuntansi dan juga karna aku mahasiswa rantau. Karna dua hal tersebut aku menjadi sorotan di kelas. Mula-mulanya aku memang tidak menunjukkan kalau aku bisa akuntansi, karna aku orangnya pemalu jadi lebih banyak diam. Tapi rencana tuhan memang indah, aku dipertemukan dengan tipikal dosen yang paling aku sebal dengan metode pengajarannya. Dosen tersebut sering bertanya tentang hal-hal yang tidak subtantif dalam pelajaran. Ya seperti pengertian-pengertian atau hal yang sangat hafalan sekali. dan hal itu selalu diulang-ulang dengan nada mengejek. Karna aku kesal aku selalu menjawab setiap pertanyaan dosen tersebut, tujuan awalnya sih supaya dia diam dan kuliah cepat selesai. Tapi secara tidak langsung aku mulai berani berbicara dan aku mulai dikenal karna bisa menjawab semua pertanyaan dosen tersebut.

Turning point selanjutnya adalah ketika aku melihat teman mahasiswa rantauku sudah bisa dekat dengan yang lainnya. Disitu aku tersadar salah satu tujuanku kuliah “untuk bersosialisai” memulai berkenalan dengan semua orang. Ada prosesnya untuk aku bisa bersosialisasi, tidak segampang yang dibayangkan. Aku harus mengamati kebiasaan topik pembicaraan mereka dan cara bercanda mereka. Perlahan aku mulai berinteraksi. Setelah teman sekelas mulai mencoba kelingkungan yang lain. Memang tidak berjalan dengan baik sepenuhnya tapi disini aku ada kemajuan. Jadi semala 2 semester aku lebih banyak belajar untuk bersosialisasi dengan yang lainnya.

2 tanggapan untuk “Merantau #5 Belajar Bersosial

Tinggalkan Balasan ke KotakDiksi Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s