Merantau #9 Ramadhan Pertama di Perantauan

Malam itu sehabis sholat magrib masih terdapat sedikit semburat jingga di langit malam seperti enggan berpisah dengan para penghuni bumi. Teman ku karman memberikan pengumuman kepada kami setelah membaca al-ma’surat, bahwa sekitar 20 hari lagi akan memasuki bulan ramadhan dia mengajak kami untuk ikut puasa sunnah daud selama 20 hari seperti pemanasan sebelum memasuki bulan ramadhan. Menurutku program itu cukup bagus, jadi aku ikut yaaa walaupun pada akhirnya aku hanya mengikuti hanya 18 hari saja karna pada hari pertama aku tidak kuat, cuacanya sangat panas ditambah belum sahur dan harus berjalan jauh dari asrama ke gedung feb, sungguh melelahkan. Tapi aku berktekad untuk selanjutnya harus mengikuti secara konsisten dan Alhamdulillah terlaksana. Benar memang puasa daud itu sangat bermanfaat sebagai pemanasan waktu masuk bulan ramadhan. Apalagi bagi kami para pendatang, karna cuaca di sini lumayan mengerikan kalau di siang hari, jadi pemanasan sangat diperlukan.

Kebingunan pertama adalah menentukan kapan sholat tarawih pertama, karna waktu disini ada 1 jam lebih cepat dari pulau jawa. Jadinya sidang isbat di sini lebih lambat, disini sudah masuk waktu isya tapi di jawa baru magrib. Apalagi kami di asrama semuanya adalah pendatang tidak tahu untuk kondisi seperti ini di tempat yang baru harus bagaimana. Karna untuk tarawih kami harus pergi ke masjid kampus. jadi waktu itu kami terbagi dua kelompok, ada yang pergi ke masjid kampus dan menunggu disana dan ada yang nunggu di asrama sampai dapat kepastian. Kalau aku dulu termasuk orang yang nunggu di asrama hehe.

Pertama bagiku menjalankan puasa di bulan ramadhan jauh dari orang tua dan tempat tinggal. Agak beda rasanya, tidak ada ta’jil yang biasa ada di bulan ramadhan. Kami biasanya hanya membeli gorengan dan es jasjus dingin aja. Untuk puasa kali ini kami mengakalinya dengan patungan makan yang ditambah, tadinya hanya patungan makan nasi tapi sekarang ditambah dengan ta’jil dan makan malam. Jadi kami selama hampir satu bulan makanannya itu-itu saja. sampai terkadang sangking bosannya kami bisa malas untuk makan beras saat berbuda apalagi sahur.

Tapi suasana bulan penuh berkah ini masih tetap terasa, malah sangat terasa. Disini mahasiswa jadi lebih sering baca al-qur’an apalagi kalau di masjid kampus. Setelah shalat zuhur biasanya ramai dengan lantunan ayat suci. Kalau di asrama terasa sholat subuh lebih ramai dari biasanya, dan juga dilanjutkan dengan al-matsurat. Di asrama juga lebih banyak yang sholat dhuha, kenapa aku tau? Karna dilantai 4 memang tempat yang di khususkan untuk sholat berjamaah jadi aku tau perbedaanya. Biasanya juga sekitar jam setengah empat ada yang membangunkan anak-anak yang lainnya untuk segera sahur. Serusih pertama kali menjalankan puasa di bulan Ramadan.

Nahh Pasti kalian semua tau ibadah rutin yang ada hanya pada bulan ramadhan apa, yaa itu sholat tarawih. Kalau hari biasa kami sholat itu di asrama. Tapi untuk kali ini sholat isya’ dilaksanakan berjama’ah di masjid kampus dilanjutkan dengan sholat tarawih. Jadi aku harus turun dari lantai 4 dan jalan kaki untuk sampai ke masjid kampus. Perjalanan yang melelahkan sebenarnya karna siangnya harus pergi ke kampus jalan kaki tapi malamnya juga harus jalan kaki lagi ke masjid. Tapi karna waktu itu masih semangat jadi tetep dihajar. Ya biarpun ada kadang kala rasa malas itu datang menghampiri, jadi beberapa kali aku sholat tarawih di asrama tidak di masjid kampus.

Pada bulan puasa kali ini berdampingan juga waktu UAS di kampusku. Bisa dibayangkan harus mikir lebih dari biasanya di saat haus dan perus kosong. Ditambah lagi harus jalan jauh dari asrama ke kampus. Untungnya waktu itu air sudah normal jadi aku tidak perlu bawa-bawa alat mandi ke kampus lagi.

Karna bulan Ramadan ini bertepatan dengan uas dan dilanjutkan libur panjang. Jadi suasana puasa saat ini di liputi dengan hiruk pikuk kesibukan pulang kampung. Hampir semua mahasiswa merencanakan pulang kampung. Jadi seperti ini rasanya euforia pulang kampung, Entah gimana Ingin rasanya hari cepat berlalu, Tak sabar menunggu matahari terbenam dan segera terbit, Rasa ingin aku bisa melompati waktu supaya lebih cepat lagi, Harum aroma dapur rumah sudah bisa tercium. Riak bahagia tak bisa disembunyikan dari raut wajah setiap mahasiswa rantau. Termasuk aku karna ini pulang kampung pertamaku.

2 tanggapan untuk “Merantau #9 Ramadhan Pertama di Perantauan

Tinggalkan Balasan ke KotakDiksi Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s