Sedikit tentang Politik

Tahun ini adalah tahun politik, tahun yang bising pastinya. Pertama juga kali bagi Indonesia melaksanakan pemilu secara serentak. Pemilu yang dibanggakan oleh pmerintah karna menjadi pemilu terbesar. Banyak kasus banyak intrik yang tak terungkap dan disembunyikan. Banyak propaganda yang digaungkan. Para elit senang melihat pertunjukan binantang aduan.

Eiit cukup sarkasme politiknya sampai disini dulu, karna yang saya mau bahas bukan itu. Ini tentang pertunjukan narasi yang dilakukan para elit di media-media mainstream. Dengan segala kemasan dan konsep media mereka bisa membungkus acara menjadi menarik. Hal ini terlihat dari kebanyakan orang kembali mulai perhatian dengan kondisi perpolitikan Indonesia.

Baru-baru saya juga baca beberapa tulisan blogger yang membahas salah satu tokoh politik. Ya dia membahas idolanya tak ada yang salah soal itu karna aku juga punya idola sendiri. Namun ada yang membuatku sangat bingung sekali dengan cara beberapa orang melihat seorang tokoh dalam berpolitik. Melihat kehebatan tokoh politik karna dia bisa menjatuhkan lawat politiknya “aku suka beliau karna sosoknya yang selalu membuat keok atau keder lawan debatnya”. Yang aku bingungin bagaimana caranya kita menilai orang itu menang atau kalah dalam debat atau diskusi?!. Apa dia yang ‘bicara paling keras’, atau ‘yang memotong pembicaraan orang’, atau dia yang ‘tidak memberikan kesempatan orang lain untuk berbicara’, atau dia yang ‘menuduh orang lain tidak open mind karna pendapatnya tidak diterima’.Aku pribadi sampai sekarang belum bisa menilai gimana seseorang itu bisa menang dalam debat atau pun diskusi.

Sekarang aku Tanya ke kalian emang tujuan debat atau diskusi (bukan untuk lomba) untuk mencari siapa yang menang siapa yang kalah?. Jelas kalau aku yang jawab dengan tegas ‘tidak’. Bagiku tujuan berdiskusi itu hanya untuk menyampaikan pendapat, syukur keduanya bisa saling terbuka untuk mencari narasi yang terbaik. Yang aku ambil dalam diskusi adalah narasi dan pendapatnya. Siapapun yang bicara ketika narasinya bagus aku akan ambil. Karna menurutku itu tujuannya dari debat atau diskusi. Dalam berpolitik yang penting itu adalah tentang narasi. Bukan menang atau kalah, bukan banyak atau sedikit, yang pasti bukan tentang hewan-hewanan.

Aku pribadi mengidolakan sosok fahri hamzah, anis mata, haris azhar, panji pragiwaksono, anies baswedan, rocky gerung, effendi gazali. Bukan karna orangnya tapi karna narasinya yang di gaungkan. Caranya mereka dalam berdiskusi dan bernarasi. Aku suka dengan cara Pak Fahri Hamzah yang lantang menyuarakan apa yang dia anggab benar. Aku juga suka caranya Anis mata dan Haris azhar yang santun dalam menyampaikan pendapat, aku suka dengan caranya rocky gerung yang menggunakan banyak metafora dalam penyampaian pendapat, aku juga suka dengan cara effendi gazali yang menggunakan Bahasa sederhana supaya mudah dipahami bagi masyarakat, aku suka caranya bang pandji yang mengutamakan persatuan dalam penyampaian gagasanya. Konsistensi mereka dalam menyampaikan narasi dan pendapatnya. Aku pribadi setuju dengan apa yang mereka-mereka gaungkan. Jadi aku mengidolakan mereka karna narasi. Bukan tentang siapa yang menang atau kalah.

Aduh jadi ngelantur kemana-mana ini. Jadi intinya aku cuman mau ngomong, diskusi atau debat dalam keseharian itu bukan tentang bagaimana kita menjatuhkan lawan atau dia yang paling bersuara keras. Di era demokrasi ini yang dinilai itu bukan siapa yang keras atau lembut. Tapi isi dalam pendapat yang dibawakan. Misalnya kayak kemarin ada diskusi di media mainstream tentang meninggalnya anggota KPPS. Secara konsep pendapat si doker yang diundang menyampaikan bahwa cara kpu mengatakan banyaknya anggota KPPS yang meninggal karena kelelahan itu tidak tepat secara medis. Mereka juga meminta untuk dilakukannya autopsi atau penyelidikan lebih lanjut dengan membuat tim pencari fakta. Kalau misalnya melihat kebaikan kenapa tidak dilakukan saja alasanya karna saya rasa itu adalah hal baik untuk menghargai banyak nyawa yang dikorbankan. Tapi malah ada salah satu elit politik yang membahas bagian kecil dari kata-kata dokter yang tidak ada sama sekali bobot, bibit dan bebetnya hehe. Dia meninggikan suara, memotong setiap pembicaraan yang dia anggap salah, tidak mempersilahkan pembicara lain untuk berbicara. Nah itu adalah salah satu contoh kecil bagaimana kita memandang diskusi. Bukan siapa yang suaranya paling tinggi atau paling pelan. Kalau diskusi diliat suara paling keras atau yang suka memotang pembiacaraan pasti si elit politik tersebut yang dianggap politikus handal. Tapi kalau diliat secara isi dan bobot dalam pendapatnya temen-temen bisa menilai sendiri.

Terakhir aku cuman mau kasih saran, lebih bijak dalam menilai orang. banyak hal yang masih abu-abu. Aku sendiri masih sering salah masuk lobang. Politik itu tentang narasi menurut saya, Bukan tentang siapa. jangan sampai salah menilai dan memilih.

Saran terakhir yang pasti bagus bagi saya. Kalau mau jadi partisan partai politik. Pilih partai politik yang mendukung demokrasi. Jangan memilih partai politik yang mendukung presidential threshold. Karna itu pencederaan dalam demokrasi. Menutup banyak hak rakyat untuk mendapatkan calon pemimpin yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s