Merantau #26 Pergi dengan pertanyaan

Masih dengan liburanku. untuk kedua kalinya aku menikmati liburan setelah pergi merantau. Selayaknya anak muda yang ingin merasakan kembali ramahnya suasana kota asal, banyak kegiatan yang aku lakukan untuk mewujudkannya. Acara pertama adalah buka bersama dengan pengurus Rohis dan alumni rohis sekolahku. hari berikutnya dilanjut buka bersama dengan teman-teman sekolah ramai seperti biasanya sampai lupa waktu.

Tak lupa juga pulang kampung. Sekarang aku pulang kampung bersama keluarga, aku tidak pergi sendiri lagi. Sekarang lebih ramai dari pada kemarin. Kami ikut acara halal bi halal keluarga besar ayahku. Banyak yang tidak aku kenal sih  ehehe, maklum ketemu hanya 1 tahun sekali.

Kalau kemarin aku liburannya pergi ke gunung andong bersama teman, sekarang kami merencanakan pergi bersama ke gunung bromo. Tapi yang ikut tidak semuanya berangkat, karena terlalu ramai tidak cukup satu mobil. Perjalanan sekitar setengah hari. Kami sampai di hotel waktu malam sudah larut dan langsung tidur karena harus jalan pagi-pagi sekali untuk naik ke atas. Sampai di atas kami menyewa mobil jeep, rencananya kami mau pergi ke tempat melihat matahari terbit. Tapi sayangnya kami terjebak macet jadinya kami turun di tempat kedua untuk melihat matahari terbit. Sebenarnya biasa saja pemandangannya, lebih bagus matahari terbit di bukit belakang kampusku. Setelah itu kami turun lalu pergi ke pasir berbisik diakhiri dengan pergi ke bukit teletubbies.

Selebihnya liburan seperti liburan biasanya, menikmati santai dirumah dan sesekali main keluar. Liburan kali ini terasa sedikit berbeda, menurutku bukan karena kemana aku pergi tapi karena perubahan dalam diriku. Kalau kata orang ada namanya hukum sebab akibat. Setiap kisah yang kita buat akan kembali kepada sang pelaku utama. Termasuk untuk diriku, dua tahun selama aku merantau, berkenalan dengan orang baru dan karakter yang banyak, ternyata sedikit demi sedikit merubah diriku. Kebetulan kebanyakan temanku di perantauan orang-orangya hiperaktif, Mungkin karena itu aku jadi terbawa sampai ke rumah. Di perantauan juga aku berkenalan dengan suasana yang bebas, setiap orang bisa melakukan apapun dan bertanggung jawab sepenuhnya atas segela tindakannya. Dan selayaknya seorang anak yang ingin terlihat adanya perubahan atas prosesnya selama merantau keluar, aku jadi sangat ingin unjuk gigi atas perubahanku. Aku memersepsikan diriku yang dulu sebagai orang yang pendiam dan pasif sekarang aku ingin menunjukkan aku jadi lebih aktif.

Sementara itu keluargaku bisa dibilang agak islami dan agak kaku, jadi tata krama sangat dijunjung tinggi. Karena aku kuliah berbeasiswa dan mahasiswa luar lainnya juga sama, beasiswa kami dikelola sepenuhnya oleh yayasan islam, mungkin karena itu orang tuaku jadi berfikir kalau aku disana ananti mendapat lingkungan baik. Jadinya setiap orang tuaku telpon pasti selalu ditanya gimana hafalanku, tilawahku, sholatku dan liqoanku (kelompok pengajian). Dan yang aku temukan disana tidak seindah yang orang tuaku bayangkan. Tapi disana justru aku menemukan hal yang tidak aku temukan dirumah. Kehangatan yang tidak kaku dan saling terbuka, suasana seperti yang niatnya aku mau bawa kedalam rumah.

Sampai akhirnya sekitar 1 bulan sebelum aku pergi kembali ke sumbawa.  tiba-tiba keluar dari mulut ibuku

“kamu kok jadi kayak gini sih mri? Emang disana ngapain aja? Udahlah cepet selesaiin disana biar kamu cepet balik lagi kesini”.

 Aku terdiam seketika, bingung harus gimana. Yang ada dipikiranku adalah

“sebegitu buruknya kah kelakuanku sekarang?, sebegitu gagalnyakah aku sampai keluar kata-kata seperti itu?, apa kalian tidak sadar apa yang aku inginkan dan aku bawa?, salahkah perubahan diriku yang sekarang ini?”.

 Seketika aku kembali teringat pikiran itu ketika melamun di ruang tunggu bandara “aku pulang apa memang rindu keluarga atau tidak?”. Hal ini selalu menggangguku, seketika aku kambali jadi pemdiam. Tidak lagi seaktif dulu ketika pertama kali datang. aku yang tidak tahan karena terus kepikiran memutuskan untuk pergi lebih awal ke sumbawa. dengan alasan karena ada persiapan acara tahunan program studi. Padahal sebenarnya aku masih ada jatah libur hampir sebulan.

Hal ini terus aku pendam. Aku tidak bisa menceritakan kepada siapapun. mungkin ‘apa’ yang dikatakan itu hal sepele, tapi ketika orang tua yang bicara seperti ini hal itu menjadi lebih tajam dari pada orang lain yang berkata kasar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s