Merantau #28 Gubuk Derita

Sekarang sudah memasuki akhir bulan September 2017, berati sudah 1 bulan lebih aku berada di Sumbawa, alasanku  pergi lebih dulu karena ingin mempersiapkan kegiatan tahunan prodiku. 1 bulan kebelakang aku masih tinggal sendirian di kamar asrama. Tapi sekarang teman-temanku sudah mulai berdatangan, karena sebentar lagi akan memasuki semester 5.

Semester ganjil hhmmm, berati ada mahasiswa baru yang akan datang. Akan ada mahasiswa baru luar sumbawa yang akan menempati asrama. Dengan begitu kami mahasiswa lama harus keluar dari asrama supaya mahasiswa baru bisa tinggal. kembali lagi aku berhadapan dengan pemindahan.

Status kami disini adalah mahasiswa berbeasiswa. Banyak juga teman-temanku yang bergantung dengan beasiswa untuk keseharian, termasuk dalam hal tempat tinggal, dalam surat perjanjian sudah tertera tentang uang akomodasi tempat tinggal dan karena uang akomodasi kami sepenuhnya dikelola oleh kampus, Berati sudah jadi kewajiban kampus untuk menyediakan tempat tinggal. Banyak isu yang beredar karena kesimpangsiuran kebijakan kampus. Terkait pindahan dan tempat tinggal. Sampai akhirnya kami dijanjiakan akan dicarikan rumah untuk dikontrkan ber 15 orang.

Akhirnya kami dapat rumah panggung untuk ditinggali bersama. Rumah yang kami tempati adalah rumah tua, 100% terbuat dari kayu. Banyak dinding-dinding rumah yang sudah rapuh, pernah aku mencoba bersandar di dinding tapi malah langsung jebol dan hampir roboh. Kamar mandi kami terpisah dari rumah, jadi kalau mau buang air kecil atau mandi harus keluar dulu. Kamar mandi juga hanya berlapis dinding bambu dan agak keliatan dari luar, jadi kalau aku mandi harus jongkok untuk jaga-jaga takut ada yang liat. Kada-kadang kami juga kesusahan air, karena sumur kami untuk 2 rumah dan airnya sedikit, jadi kadang-kadang pompa suka tidak kuat menaikan air, kalau sudah seperti ini kami terpaksa nimba air atau pergi ke masjid. kalau sudah malam disini terlalu dingin karena banyak lubang di lantai jadi anginnya banyak masuk. Kalau siang kami kegerahan karena atapnya yang pendek dan tidak ada pelapon untuk penutup.

Rumah ini ditinggali 15 orang, sudah pasti terlalu kecil untuk menampung kami semua. Kalau mau tidur kami harus ngampar gitu aja, kayak ikan asin lagi dijemur. Kalau beruntung bisa tidur dikamar atau dipinggir-pinggir tembok rumah. Kalau sial kayak aku seringnya tidur depan pintu ruang depan atau tidur deket dapur, mungkin kalau dapur bisa jadi tempat tidur kayaknya ada juga yang tidur disana. sangking reotnya kami menyebut tempat ini sebagai gubuk bukan rumah.

Bagiku yang pernah ditinggal dikota metropolitan hal ini sangat tidak nyaman. Aku disini tidak bisa belajar sama sekali. bahkan diawal-awal kami memasak menggunakan tunggu dan kayu bakar, karena tidak ada kompor. Pernah aku sampai harus numpang kerumah teman hanya untuk mandi. Tapi itu semua harus aku terima karena aku tidak punya uang lebih dan kendaraan untuk pindah kontrakan.

Ada kejadian unik selama aku disini, ada seorang temanku iseng mengambil video-video keseharian kami di gubuk ini. dikumpulkan dan ditambah editan yang ciamik dan  taraa jadilah sebuah video yang menampilakan keadaan yang memprihatinkan ala-ala program reality show. Waktu kita semua nonton video itu sebenarnya lucu juga ternyata, sebegitu prihatinnya kondisi yang sedang dialami, dan beberapa dari kami ada yang iseng mengirim ke orang tua, kalo aku ngak ngirim video itu ya takut orang tuaku jadi khawatir waktu liat video itu. Ternyata Orang tua temanku nyebar video itu ke grup WA orang tua mahasiswa rantau, akhinya viral dong video itu, terus merembet lagi ke grup mahasiswa rantau. Video itu menjadi buah bibir dikalangan mahasiswa ada yang melihatnya buat seru-seruan, ada yang melihatnya sebagai bentuk protes, ada yang iba juga hehehe.

Sampai waktu itu ada kesempatan rombongan orang tua pergi ke sumbawa. orang tuaku waktu itu ngak ikut. Dan pastinya tempatku jadi destinasi para orang tua, ada yang datang bawa makanan, ada yang sekalian ngunjungin anaknya disini + acara bakar-bakar ayam. Pastinya kita semua dikasih wejangan-wejangan ala-ala.

Yaa gitu tempat ini, bisa dibilang menyedihkan sekaligus menyenangkan. Tergantung kita aja mengartikan setiap kejadian.

Satu tanggapan untuk “Merantau #28 Gubuk Derita

Tinggalkan Balasan ke KotakDiksi Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s