Merantau #34 Memilih Tak Pulang

Rasanya seperti baru kemarin aku merasakan bulan puasa, tak terasa sekarang sudah memasuki bulan puasa. Mmm Puasa kali ini agak berbeda, mungkin karena tidak ada uas jadi terasa lebih santai. Uasku dilaksanakan seminggu setelah masuk libur puasa. Tapi seperti biasa juga, hiruk pikuk suasana mudik mulai tetap terasa. Suasana lebaran bersama keluarga memang tidak bisa ditinggalkan. Tapi kali ini, sepertinya aku memilih tidak pulang.

Sejujurnya orang tua beberapa kali menelpon menanyakan kabar tentang kepulanganku nanti. Tapi aku beralasan kepalang tanggung kalau untuk pulang lebaran ini, karena liburnya sebentar dan juga bulan agustus nanti aku ada Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang mungkin akan banyak persiapan. Orang tuaku agak sedih ketika mereka mendengar alasanku, sempat mereka menanyakn kembali dan meyakinkan untuk biaya pulang jangan terlalu dipermasalahkan. Tapi kembali aku menyakinkan untuk tidak pulang kali ini. dan seperti biasa hebatnya orang tuaku tidak pernah memaksakan kehendaknya dan menghargai keputusan anaknya.

Tapi kalau ditanya sejujurnya alasan utamaku memilih tidak pulang bukan itu, bukan karena liburan yang kepalang tanggung atau keribetanku mengurus KKN. Mungkin sederhana ketika terlintas kata ‘pulang’ seketika timbul pertanyaan dalam batinku “untuk siapa aku pulang?, kenapa aku harus pulang?, untuk apa aku pulang?, benarkah aku ingin pulang?” semua pertanyaan itu tidak bisa aku jawab. Dalamnya makna kata ‘merantau’ juga menghantui isi kepalaku. Kembali teringat samar perkataan ibuku ketika aku kembali kesini tentang perubahan buruk yang terjadi dalam diriku. Lagi-lagi kembali beratnya makna dari kata ‘merantau’ menimbulkan pertanyaan “sudah layakkah aku untuk pulang?”.

Sempat mendapat nasihat dari beberapa orang, kata mereka “orang tuamu itu cuman ingin kamu pulang, tidak lebih”atau “pulang walau sebentar, sekedar mengosongkan kantong rindu”, Ya itu mungkin benar, tapi masalahnya apa aku betulan serindu itu dengan mereka. kalau aku pulang akupun memilih pulang rasanya seperti membohongi diri sendiri, dengan semua isi pikiran yang menghantui.

Memilih untuk tak pulang, mungkin agak kekanak-kanakan bagi sebagian orang. Tapi mungkin ini salah satu jalan untukku jadi lebih dewasa.

Semoga…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s