Merantau #35 Lebaran Pertama diperantauan

Sudah konsekuensi memilih tidak pulang yang berati aku akan lebaran di tanah rantau. Mulai dari Itikaf, ritual yang aku lakukan menginap selama 10 hari terakhir dibulan Ramadan, sampai lebaran dan liburan sudah pasti akan aku lakukan di tanah rantau. Hal yang pertama bagiku, tapi tidak terlalu mengejutkan atau menakutkan sih, mungkin karena banyaknya kejadian yang sudah aku lalui sebelumnya.

Itikaf adalah rutinitasku yang tidak pernah aku tinggalkan di 10 hari terakhir bulan Ramadan. Karena menurutku itikaf adalah salah satu fasilitas yang diberikan untukku supaya meningkatkan tilawah quran. Mungkin sejak smk aku tidak pernah lupa Itikaf di sepuluh terakhir bulan ramadhan. Biasanya aku pergi dengan adikku ke masjid di sekitar perumahan. Tapi disini aku Itikaf di Masjid Agung Sumbawa, karena itu tempat terdekat dan mungkin satu dari sedikitnya masjid yang menyediakan tempat itikaf.

Untuk shalat Idul Fitri, aku shalat di taman pahlawan, mungkin bisa dibilang alun-alun kota. Disana juga hadir gubernur NTB, beliau yang memberikan link beasiswa kepada kami mahasiswa rantau. Setelah shalat kami menyempatkan untuk mencoba sekedar menyapa dan bersalaman dengan beliau. Beliau memang dikenal rendah hati dan ramah kepada siapa saja. bukan pake pencitraan ya hehe.

Setelah itu kami pulang dan berlebaran dengan tetangga rumah. Kebetulan mereka juga membuat acara makan-makan. Sekedar mengobrol dan bersilaturahmi, Karena sudah lama kami tak mengobrol. Pagi-pagi sudah dapat sajian lontong sayur, mantap sudah. Tetangga kami memang ramah dan baik, mereka juga sering memberikan makanan apalagi kalau puasa hampir setiap buka kami dikasih es buah atau sekedar lauk untuk buka.

Setelah berbincang selesai kami langsung pergi ke acara selanjutnya. Kebetulan kami mahasiswa rantau membuat acara halal-bihalal bagi mahasiswa  yang lebaran di perantauan. Sekedar membuat acara makan bersama dan berbincang untuk mengurangi rindu akan kampung halaman. Lumayan banyak juga mahasiswa yang ikut berpartisipasi di acara ini. puas makan, berbincang dan berfoto ria kami segera pamit kembali ke aktifitas masing-masing.

Untuk lebaran kali ini aku sungkeman online. Alhamdulillah karena kemajuan teknologi kami bisa video call. Sekedar memberi kabar dan meminta maaf untuk segala kelakuanku yang merepotkan. Ya seperti itu, tidak bisa lebih.

Lebaran di tanah rantau, ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Mungkin memang menjenuhkan karena tidak ada sanak saudara untuk dikunjungi. Tapi sejujurnya aku bisa belajar arti dari kata dekat dan rindu secara bersamaan. Keputusan ini tidak pernah aku sesasli.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s