Merantau #37 Iri dengan Mereka

Mungkin ini bisa dibilang ini adalah kegilisahan yang aku pendam dari awal aku pergi merantau. Hal ini bermula ketika aku melihat temanku yang begitu dekat dengan orang tuanya. Ada yang sering di telpon atau menelpon orang tuanya. Mereka yang cerita bagaimana bertegur sapa dengan orang tuanya, membuatku iri. Kenapa aku tidak bisa dekat seperti kebanyakan orang.

Sampai akhirnya aku menutuskan untuk mengontrak bersama teman-temanku. Aku berkenalan dengan salah satu temanku. Dia sangat dekat dengan ibunya. Sering menelpon, chattan, ngobrol dan lainnya. Aku sangat iri, dengan mereka. Ada juga temanku yang begitu dekat dengan semua keluarganya, dia sering video call, nelpon, mungkin setiap seminggu sekali.

Aku iri dengan mereka yang dekat dengan keluarganya. Entah siapa yang salah, pernah aku mencoba menjadi lebih luwes, tapi mereka salah menangkap maksudku, malahan mereka bilang kelakuanku menjadi lebih buruk. Bingung sungguh gimana caranya ingin menjadi dekat. Aku coba disetiap orang tuaku chat untuk segera membalas, mencoba lebih sopan, tapi tidak ada perkembangan. Aku mencoba ingin cerita dan didengarkan, malah aku mendapat nasihat dan penghakiman. Waktu aku menelpon tidak pernah bisa lama, paling 15 menit atau 30 menit mungkin paling lama. Sebenarnya apa yang salah?

Sampai akhirnya aku bisa sekamar dengan temanku ini, dia sangat dekat dengan orang tuanya. Aku jadi penasaran, mencoba terbuka dan berbagi cerita. Aku ceritakan kegelisahanku dan rasa iriku dengan dia. Akhirnya dia pun juga cerita, tentang orang tuanya agak berbelit kalau diceritakan detailnya. Tapi yang pasti orang tuanya itu seorang spikolog anak, dan diapun menawarkan untuk konsultasi dengan orang tuanya. Agak takut dan malu sebenarnya untuk cerita ke orang lain, perihal sepele seperti ini.  jadi waktu itu aku menolak sampai nanti aku siap untuk cerita.

Tapi baiknya temanku dia terus memaksa, sampai akhirnya dia sengaja menelpon ibunya dan menceritakan kondisiku dan meminta agar aku bisa konsultasi. Jadi malam itu tiba-tiba aku disodorkan telpon dari temanku dan dipaksanya aku untuk bercerita. Yaa… mau tidak mau aku harus cerita dari awal. menceritakan kondisiku rasa iriku, waktu itu aku hampir nangissih entah kenapa ehehehe. Beliau Tanya

“ kamu udah pernah bilang belum ke orang tua kalau mau dingerin?”

Aku sekita tersadar iya ya aku memang belum pernah, tapi pikirku waktu itu bukan seharusnya mereka tau kalau anaknya ingin bercerita dan di dengar. Beliau suruh aku bercerita semua keluhanku. Dan beliau dengarkan lega rasanya. Sampai diakhir beliau memberi saran yang menyadarkanku.

“ coba kamu bicara sama mereka, bilang kalau kamu ingin bercerita dan didengar aja. Intinya mereka juga manusia tidak sempurna. Dan mereka adalah orang terbaik yang allah takdirkan sebagai orang tua. mungkin caranya menyampaikan kasih sayang agak berbeda. Yang penting kamu coba terbuka”

Yaa alhamdulilah, lega dan bersyukur aku bisa bercerita dan mendapat saran yang sangat merubah sudut pandangku. Aku baru menyadari banyaknya perjuangan orang tuaku untuk ku. mulai dari menjual motornya untuk biaya sekolahku, dan ayahku yang rela membanting tulang di usia rentanya, ibuku yang rela mengajar dari pagi sampai sore. Ya semuanya untuk kebaikan anaknya, mungkin memang cara menyampaikan rasanya berbeda, hanya aku saja yang selama ini tidak sadar dan peka dengan cara mereka.

Aku bersyukur dan bangga menjadi ditakdirkan menajdi anak mereka.

Terimakasih ayah dan ummahku tercinta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s