Tentang Cukup

Kemarin ramai pembicaraan tentang seorang sutradara yang mencamtumkan banyak pencapaian yang telah diraihnya. Dia memberikan media kit kepada media masa tentang karyanya yang mendapat banyak pengakuan. Namun selang waktu berlalu banyak fakta yang mulai terbuka. Tentang pencapaian-penacapaian yang tak ada artinya. Tentang kualitas yang tak bisa berbicara lebih  dari mulu si pembuat karya. Tadinya pujian yang berdatangan kini berubah menjadi kritik keras dan tajam. Tapi sekarang saya tidak mau menghakimi tentang pribadi atau karyanya, karena saya tidak punya keharusan apalagi kemampuan untuk membedah hal tersebut. Tapi mari kita ambil pelajaran agar kejadian seperti ini tidak kembali terulang.

Menarik ketika bang joko anwar bilang disalah satu acara TV tentang ‘Inferiority Complex’ yang sedang menjangkit tubuh si sutradara mungkin juga banyak orang, mungkin saya juga termasuk hehe. Sekedar berbagi ilmu teori ini dikemukakan oleh Alfred Adler, sebenarnya banyak teori yang dikemukakan beliau tapi kali ini mau sedikit ngebahas tentang ‘Inferiority Complex’ sama temannya ‘Superiority Complex’. Singkatnya Inferiority complex itu rasa rendah diri, tidak percaya dengan kemampuan yang dimiliki dan merasa banyak memiliki kelemahan untuk melawi berbagai rintangan kehidupan. Sedangkan superiority complex kebalikannya yaitu merasa lebih baik dan menginginkan pengakuan makanya banyak orang yang ingin terlihat berkuasa, kaya, cantik, kuat, dll.

Pada akhirnya kita memakai topeng untuk diri kita sendiri. Menutupi diri dengan banyak cara, ada yang mempercantik ada yang menutupi muka. Ya ada orang yang merasa dirinya lebih dan mempercantik diri, ingin dapat pengakuan dan terlihat besar. namun pada akhirnya waktu yang memperlihatkan segalanya, sehingga terjatuh dari ketinggian yang dibangunnya sendiri. Ada juga orang yang menutup muka dan mundur secara perlahan, kerana merasa dirinya kecil dan punya banyak kelemahan, sehingga akhirnya menghilang dan terlupakan.

Mungkin selama ini susah yang ada di hadapan kita adalah ulah kita sendiri. Salah menilai diri, merasa lebih atau merasa kurang dan lupa untuk merasa diri ini cukup. Ya cukup mengakui diri ini yang sepertini “ oh ya ini gua, dengan segala kondiri yang gua miliki, yang punya kelebihan tapi tidak harus disombongkan dan punya kekurangan tapi tidak harus mengkerdir”. Cukup mengakui “ohh yaudah aku ya aku”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s