Merantau #41 SI Pendiam (ayah)

Pagi ini terasa hagat. Aku yang sedang membaca buku dan mendengarkan musik dari playslist favoritku, dan disampingku ada ayahku yang mencoba beristirahat setelah mengantar anaknya ke bandara. Sekarang aku ada dibandara halim, karena aku harus kembali ke sumbawa untuk menyelsaikan tugas akhir. Setelah waktu istarahatku selesai dan dirasa kantong rindunya sudah kembali kosong, aku rasa sekarang aku lebih tenang untuk kembali pergi merantau.

Aku tiba dibandara halim sekitar pukul 03.30 pagi, setelah aku menumpuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam. Aku berangkat dari rumah sangat pagi sekali, sekitar jam 1an lebih aku pergi dari rumah. Diantar langsung oleh ayahku, dia yang meminta agar bisa mengantarkan langsung kebandara. Sebelum sampai dibandara ayahku menawarkan untuk mempir diwarung untuk memakan mie, mungkin itu mie yang terenak yang pernah aku makan. Ya lelaki memang seperti itu, seringnya mereka punya maksud yang tidak bisa dibicarakan dari setiap tindakan. Aku rasa ayahku hanya ingin mengobrol lebih lama dan memastikan perutku terisi sebelum perjalanan jauhku. Jadi aku menerima tawaran makan mie itu.

Setelah selesai makan mie dan ngopi, kami langsung lanjut pergi dibandara. Sesampainya diparkiran bandara aku bermaksud untuk pamit tapi ayahku ingin mengantar langsung ke depan pintu masuk, setelahnya ayahku pamit mau istirahat dulu di masjid sambil berpesan untuk memberi kabar kalau sudah cek-in. tapi ternyata bandara masih tutup aku tidak jadi masuk kedalam, akhirnya aku memberi kabar ke ayahku kalau aku masih harus menunggu diluar. Mendengar hal itu ayahku menawarkan untuk istirahat di masjid, tapi aku menolak karena sebentar lagi mungkin bandara akan dibuka. Akhirnya ayahku pergi kebandara dan tidur disebelah kursiku.

Sebenarnya aku bisa berangkat sendiri ke bandara, rencana aku berangkat malam dan menginap di bandara. Tapi ayahku bersikeras ingin mengantarkan walau nanti berangkat malam, padahal paginya ayahku harus berangkat kerja. Setelah perjalanan perantauan selama 4 tahun aku baru menyadari bagaimana ayahku memberi perhatian. Memang aku tidak cukup dekat dengan beliau, ayahku memang jarang mengobrol dan sedikit kaku sama kayak anaknya ehehe. pernah suatu saat aku sedang bercanda dengan om mul (tetangga dekat), tiba-tiba ayahku ikutan bercanda walaupun ngak nyambung. Ya… ayahku mencoba dekat dengan anaknya, walau kadang caranya agak aneh.

Ayah memang selalu begitu, dibalik diamnya yang menyembunyikan banyak cerita. Dia yang sengaja mengeraskan diri supaya kami semua bisa bersandar, berteduh dan merasa aman. Untuk semua yang kau lakukan, tapi tak kau  perlihatkan, aku ingin ucapkan terimakasih ayah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s