KAMI (BUKAN) JONGOS BERDASI-JS. Khairen

Yuhuu akhirnya ketemu lagi di kupasan buku. Gimana WFH temen-temen? Semoga betah ya, dan untuk yang belum bisa WFH kita jaga diri. Mari kita berdoa semoga bencana ini  segera berakhir dan kita bisa beraktifitas seperti sedia kala dan semoga kabar-kabar buruk tidak lagi berlalu-lalang di sekitar kita.

Oke ya, kali ini aku mau ngupas buku ‘KAMI (BUKAN) JONGOS BERDASI’ karya JS. Khairen. Buku ini aku beli waktu di Islamic Book Fair (IBF) juga. Buku ini jadi buku yang paling aku cari waktu di IBF. Sampai keliling-keliling mengunjungi setiap sudut IBF, keluar masuk both setiap penerbit. Sampai akhirnya aku baru dapet di tempat yang pertama. Bukunya terlegelatak di rak atas begitu aja, mungkin ada orang yang tidak jadi beli, ohh beruntunggnya aku.

Ini adalah buku yang aku incar. Sejujurnya aku pengen beli dari seri awalnya yang ‘KAMI (BUKAN) SARJANA KERTAS’ tapi apa daya, duitnya enggak cukup dan dirasa buku yang paling dekat dengan kondisiku sekarang adalah buku ini, jadi aku langsung beli buku keduanya. Buku ini aku beli juga bukan sekedar ingin membaca, tapi juga ingin belajar bagaimana teknis menulis bang Khairen dan penasaran juga gimana gambaran tentang dunia pekerjaan dalam dunia cerita Bang Khairen.

Buku ini di pinang oleh penerbit bukune. Enggak tau aku beli buku cetakan yang keberapa, tapi buku ini termasuk buku yang sering di bicarain sama orang-orang. Total halaman yang buku ini sebanyak 409, yang dibagi menjadi lima babak lalu dipecahkan kembali menjadi 48 episode. Cukup tebal juga kalau dibandingin sama beberapa novel yang pernah aku baca hehehe. Oh iya aku baca buku ini diawet-awetin. Bacanya satu episode perhari. Kebayangkan gimana sabarnya nahan rasa penasaran untuk baca cerita setiap episodenya. Niatan awal supaya kalo udah selesaian buku ini aku bisa beli buku yang pertamanya. Ya tapi nasib berkata lain, buku pertama masih belum bisa mampir ke dunia bacaku.  

Oke curhatannya kita cukupkan. Sekarang balik lagi ke kupasan buku. Buku ini masuk kedalam series ke dua dari tetralogi buku yang dibangun sama Bang Khairen. Yang pertama itu Sarjana kertas, kedua jongos berdasi, ketiga generasi bacot, dan terakhir yang ke empat kelas menengah ngehe. Pada buku ini menceritakan kisah mereka, para tokoh-tokoh tentang jatuh bangunnya kehidupan setelah kelulusan. Perjuangan Ibu Dosen Lira untuk memperbaiki nama ayahnya dan kampus UDEL, perjuangan sania dengan karir dan hobinya, Juwisa yang berjuang mendapat gelar S2 nya, Gala anak konglomerat yang memilih berjuang membangun jalannya sendiri, Randi tentang kisah cinta dan karirnya, kisah Arko yang mempunya kewajiban untuk menyelesaikan bangku perkuliahan dan cerita dari Ogi yang akan dimulai kembali setelah kepulangannya dari Negeri Paman Sam. Buku ini menceritakan kisah mereka yang tidak selamanya mulus. Tentang cerita yang seringnya mempunyai dua sisi berbeda. Tentang masalah yang selalu datang dan kita yang terpaksa harus menghadapi.

Buku ini juga sangat menohok. Karena banyak sekali cerita tentang kebiasaan-kebiasaan buruk yang sering kita lakukan. tak jarang kebiasaan buruk itu akan  menjadi penghambat jalur kesuksesan kita tanpa disadari. juga kebusukan kebiasan pinjam meminjam uang, pasti semua orang pernah merasakan atau bahkan yang jadi pelakunya, hehehe. Semoga bisa tobat ya, ngeselin soalnya.

Kalau boleh menggambarkan satu kata untuk buku ini adalah tentang PILIHAN. Iya, buku ini banyak bercerita tentang sebuah sikap yang harus dipilih agar hidup ini terus berlanjut. Benturan pilihan antara hobi dan karir, umur dan jodoh, mimpi dan keadaan. Apapaun yang kita lakukan di dunia ini adalah tentang pilihan, bahkan diam adalah pilihan. Dan dalam setiap pilihan pasiti ada akibat dan jalan yang harus diperjuangkan. Buku ini banyak bercerita tentang kita. kita manusia biasa yang hidup di bumi dengan segela ceritanya yang sudah terlulis dan akan tertulis.

Buku ini sangat bagus untuk dibaca semua kalangan. Mulai dari SMA, Mahasiswa, Orangtua, Karyawan, dan semua manusia yang ada di bumi ini. karena buku ini bisa jadi tentang cerita mereka yang terwakilkan.

Kalau boleh memberi nilai aku mau ngasih 9 dari 10. Aku sangat suka sama buku ini. yang peratama karena ceritanya sangat dekat denga kondisi yang sekarang dan konflik yang diciptakan sangat manusiawi juga. gaya tulisannya yang ajigijaww, baru pertama kali membaca asik juga. buku ini sangat bagus untuk dibaca oleh kalangan yang masih berjuang agar bisa tetap berjalan di dunia ini.  

Oh iya salah satu alasan kenapa aku suka buku ini karena di setiap episode ada kata-kata singkat yang merangkum kisah di episode tersebut dan ini ada beberapa kupitan yang aku suka dari buku ini;

“Alam semesta tidak diam untuk setiap harga yang kau bayar lewat air mata dan keringat. Tiap tetesannya adalah bibit yang akan menjulang tinggi, mengganti rugi semua lelahmu.”

“Taka pa lelah hingga ketualng. Untuk tempat yang kita sebut pulang. Hidup ini memang soal tualang. Bukan soal siapa kalah siapa menang.”

“Boleh jadi sang Mahapasti menciptakan kata “tapi” untuk mengingatkan manusia bahwa kesempurnaan memang bukan berada di dunia ini.”

“Boleh saja ada seribu orang yang tak percaya pada impianmu. Tapi pastikan dari seribu orang itu, dirimu sendiri bukan salah satunya.”

“Mari bicara uang sebagai nilai tukar. Berapa nilai ekonomi dari sebuah mimpi? Tolong jawab. Aku juga tak tahu.”

“saat kita salah, diam dan mengakui adalah cara yang benar. Jika malah ngotot dan bersikeras kita tak salah, hadedeh, ini akan memberikan tontonan gratis pada orang lain bahwa betapa tidak pintarnya kita. Diamlah. Terimalah. Itulah cara yang benar saat kita salah.”

Dan masih banyak kutipan bagus lainnya. Enggak mungkinkan aku tulis semuanya disini hehe. Oh iya setelah baca buku ini rasanya emang harus tetep baca buku pertamanya. Aku penasaran gimana cerita Ogi orang yang DO dari kampusnya tapi sekarang bisa pergi jauh ke Negeri Paman Sam. Udah dulu ya, yang penasaran bisa silahkan baca bukunya. Tapi inget ya jangan baca yang bajakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s